ecoengineer

REMEDIASI

In Uncategorized on 6 Maret 2009 at 8:05 am

Diambil dari Kuliah Bioremediasi S2 Teknik Lingkungan ITB, 2009

Ada beberapa terminologi penting arti kata Remediasi. Proses pemulihan dari kondisi terkontaminasi cemaran menjadi kondisi acuan. Dari wikipedia Remediasi adalah kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang tercemar. Apanila kita ekxplore lebih dalam, remediasi ada tiga yaitu remediasi fisik (isolasi dan pewadahan ke suatu tempat cemaran), remediasi kimia (solidifikasi dan ekstrasi kimia) dan remediasi biologi (biofilter, bioventing, dll). Yang terakhir lebih dikenal dengan istilah bioremediasi. Selain media tanah, remediasi dapat dilakukan di media air dan udara.
Saat ini saya ingin mengajak untuk lebih fokus Bioremediasi minyak bumi. Perlu tahap – tahap studi aplikasi untuk menghindari kesalahan bioremediasi yang nantinya berujung kerugian.
Yang pertama adalah lakukan feasibility study dan site characterization, pemilihan teknik yang akan dipakai apakah in situ atau ex situ. Kelebihan dan kekurangan tentunya menjadi alasan bagaimana menyikapi cemaran tersebut. Kelebihan In Situ yaitu mengurangi gangguan terhadap lokasi, pengolahan pencemaran yang lebih dalam, kontak yang minimal dengan cemaran volatil dan tentunya sangat mengurangi biaya transport meliputi ijin yang terkait dengan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Kekurangannya, diperlukan data geohidrologi yang lebih detail, pengendalian kondisi reaksi dan hasil akhir yang sulit, monitoring yang lebih hati-hati dan perlu rekayasa lebih lanjut untuk supply O2 dan nutrient.
Kelebihan Ex Situ, optimasi kondisi pengolahan, pengendalian proses, pengolahan lebih cepat dan mikroorganisme khusus dapat diimplementasikan. Sedangkan kekurangannya, diperlukan kegiatan pemindahan bahan pencemar, Mahal, materi volatil kurang terkontrol pada saat kegiatan pemindahan limbah. Land Farming, composting, biopile dan slurry reactor merupakan kegiatan bioremediasi Ex Situ.
Studi aplikasi berikutnya adalah Treatability Study yang dibagi menjadi tiga fase.

Fase pertama, uji kemungkinan bioremediasi tanah meliputi analisis kimia kontaminan dan penyebarannya, komposisi mikroorganisme, yang ada di tanah terkontaminan, uji toksisitas dan inhibitordan karakteristik fisik permebilitas struktur tanah, dll.

Fase kedua, kriteria desain termasuk didalamnya desorpsi abiotik, biodegradasi materi terkontaminan skala laboratorium dan kinetika reaksi dengan simulasi.

Fase ketiga (fase pilot) , aplikasi di lapangan dengan sistem evaluasi dari monitoring, yaitu penurunan konsentrasi tercemar, perubahan struktur atau komposisi pencemar, perubahan struktur nitrogen, peningkatan mikroorganisme dan perubahan kondisi operasional (pH, temperatur)

Semoga bermanfaat

Desain Lingkungan

In Uncategorized on 5 Maret 2009 at 7:25 am

Masa Depan yang Lebih Baik

Penulis : Bagus Dadang Prasetiyo

Ternyata…rekening sampah kita di bumi ini sudah melimpah. Dengan suku bunga yang sangat tinggi mengiming – imingi untuk terus menabung. Bukan untuk hari esok yang lebih baik, bahkan sebaliknya. Ah…itu kan dulu, itu kan jadul… Sekarang kita punya rekening baru di bumi baru dengan manajemen yang baru juga. Sebut saja Desain Lingkungan.

Konsepnya adalah sampah dijadikan komponen sistem bukan sebagai buangan. Sampah menjadi barang konsumsi, tidak mengambil dari sumber daya alam sebagai produk baru, sehingga ada keseimbangan dalam pemanfaatannya. Kata orang Ndeso ” Completely Cyclical in Nature”. Berbeda dengan konsep sebelumnya yang hanya mengindikasikan baku mutu effluent dan stream sesuai peraturan yang berlaku, sampai disitu TITIK. Desain ini benar – benar lain, yaitu menghasilkan “Zero Waste”. Zero Waste bukan berarti mencapai titik nol seperti “Self Purification”, hal tersebut sangat mustahil! Tetapi pre produksi, proses produksi dan limbah hasil proses dapat disiasati melalui 6 R bukan hanya 3 R. R pertama adalah Refine, pencarian alternatif bahan baku yang lebih ramah lingkungan. Reduce, pengurangan jumlah limbah dengan optimalisasi proses. Reuse, pemakaian limbah kembali untuk dimanfaatkan pada proses yang berbeda. Recycle, Memanfaatkan kembali limbah pada proses yang sama. Recovery, mengambil material dari limbah yang masih dapat digunakan ulang untuk pemanfaatan yang lain. Dan yang terakhir adalah Retrieve to Energy, memanfaatkan limbah sebagai bahan bakar atau dapat diartikan sebagai penghematan energi.

PLTSa adalah salah satu contoh konsep desain lingkungan, meskipun Pro dan Kontra mewarnai. Tapi memang harus ada yang kontra untuk hasil yang lebih baik. Teknologi Incinerasi menjadi acuan … tentunya dengan kontrol hasil buangan untuk menghindari terbentuknya dioksin dan furan yang bersifat karsinogenik. Jangan khawatir dengan emisi CO2, karena ada yang lebih berbahaya sebagai efek rumah kaca, yaitu CH4  yang dapat dihasilkan dari sampah yang membusuk seperti kasus TPA yang tiba – tiba menimbulkan ledakan dan membakar. CH4 mempunyai efek dua puluh satu lebih besar dibanding CO2 sebagai donatur efek rumah kaca.

Permasalahan sampah kota menjadi tertangani dibanding sistem buang angkut dan buang ke TPA. Selain reduksi sampah,  boiler dari pembakaran sampah 850 – 900 derajat celcius menghasilkan uap yang menggerakkan turbin menjadi energi listrik. Jangan khawatir… masih ada by produk yang dihasilkan, yaitu abu hasil pembakaran dimanfaatkan sebagai bahan baku paving block. Melalui uji lindi, uji toksik dan uji kuat tekan beton untuk hasil akhir sebagai paving block pertamanan, parkir atau bahan bangunan yang lain.

Dengan demikian rekening sampah kita memang menjadi uang, bukan barang busuk yang mengganggu dan merusak. Siklus akan mengembalikan semua tanpa harus mengambil bahan baku dari sumber daya alam. Tentunya semuanya direncanakan melalui ijin AMDAL sebagai kontrol lingkungan yang lebih baik dan ramah .